Powered By Blogger
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Jumat, 21 Februari 2014

Perempuan: Keep a Secret!



Jam wecker membangunkanku pagi ini, baguslah akhirnya aku bisa bangun pagi di hari libur. Ibu mengajakku untuk jogging pagi ini. Kemudian, kujalani Minggu pagiku dengan jogging bersama Ibu di sekitaran rumah. Dan tepat pukul 09.00 aku bersama Ibu mengunjungi suatu café di sudut jalan. Café itu bergaya eropa dan sangat klasik, Ibu sering mengunjungi tempat ini setelah jogging.
“Lihat, bagus ya tempatnya. Kamu pasti suka tempat ini.” Katanya memulai obrolan pagi hari sambil memegang bunga gratis yang diberikan oleh pelayan café kepada pengunjung pertama café ini.
“Café-nya klasik, aku suka. Ibu sering kesini saat aku tidur dirumah sendirian? Ibu jahat ga ngajak aku.” Jawabku mengeluarkan perasaan.
“Habisnya kamu ga bisa tuh, yang namanya dibangunin pagi-pagi. Kamu mau pesan kopi atau teh hangat?” tanyanya dengan senyuman bagai malaikat, aku suka senyuman ibuku.
“Apa ya, cappuccino aja deh. Aku ke pemesanan dulu ya bu, Ibu mau minum apa?” tanyaku kepada Ibu sambil berdiri bersiap memesan ke tempat pemesanan.
“Capuccino, good choice. Hmm, aku pesan Strawberry-tea. Terus jangan lupa beli roti atau makanan kecil juga Sam. Kita-kan belum sarapan.” Jawab Ibu.
Kemudian setelah memesan, akupun kembali ke meja. “sudah kupesankan bu, nanti diantar katanya.”
“Makasih yaa sayang, kamu baik banget deh.” Pujinya kepadaku.
Well, si Ibu memang suka pakai kata-kata sayang sama aku. Kuharap perubahanku ini akan berhasil.
Gak berapa lama, setelah meneguk beberapa kali minumanku. Ibu menyatakan sesuatu.
“Sam, ada seseorang mau ketemu sama kamu.” Katanya sambil membuat senyum simpul.
“Siapa bu?” Jawabku sedikit berteriak. Bagaimana aku gak kaget, ibu bilang ada seseorang yang ingin bertemu denganku. Siapa, aku bertanya-tanya dalam hatiku. Apa iya kalau orang itu ayah?
“Ada deh, pokoknya kamu pasti suka sama temannya Ibu ini. Ayo dimakan brokolinya, jangan disisain ya.”
“iya, iya ini aku makan. Memang temannya ibu itu kapan datangnya? Hari ini, besok, atau kapan?” tanyaku sambil  menghabiskan sisa brokoli yang ada di piringku.
Tanpa membalas pertanyaanku, ibu langsung terdiam menatap dengan pandangan yang tajam ke arah depan. Karena penasaran aku pun melihat ke belakangku mencari apa yang dilihat oleh ibuku. Ada sesosok pria ganteng memakai jaket dan celana training yang kuduga dia habis olahraga di suatu tempat. Kemudian, pria muda itu berjalan menuju meja kami. Aku dan ibuku merupakan pelanggan pertama café ini. Pria itu mempunyai rambut hitam yang bergelombang, kemudian dia memakai sepatu kets dan membawa Koran di tangannya.
Ibuku tersenyum dan melambaikan tangannya ke arah pria itu. Apa benar orang itu yang dimaksudkan ingin bertemu denganku? Aku tidak tahu kalau ibu mempunyai teman yang sekeren pria itu. Pria itu juga membalas lambaian tangan ibuku dengan mengangkat tangan kanannya ke atas.
“Hai, Sarah.” Salamnya kepada ibuku, nama ibuku adalah Ardelia Sara. Hm, aku semakin tidak percaya dengan ibuku. Untuk apa temannya diajak ke café ini juga? Menghancurkan suasana keakrabanku dengan ibuku saja.
“Hey, Tomm. Capek tadi olahraganya?” Tanya ibuku kepada pria yang dipanggilnya Tomm. Jadi, pria itu namanya Tomm dan dia adalah teman ibuku. Lagipula ibuku terlalu perhatian dengan dia, sampai menanyakan hal seperti itu.
“Hahaha, yaa rutinitas sehari-hari. Kamu bersama dengan putrimu?” tanyanya, dan jantung seakan mau copot! Dia tahu kalau ibuku sama putrinya. Berarti dia teman dekat ibu. Walaupun menurutku dia ganteng, tetap saja aku tidak akan tertipu oleh wajahnya. Jangan terlalu terbawa suasana Sam. Kamu harus mengamankan ibumu dari pria jahat bermulut manis sepertinya. Namun sebenarnya aku belum tahu dia bermulut manis atau tidak. Sebelum ibuku menjawabnya, Tomm langsung menyapaku.
“Sam, apa kabarmu? Namaku Thomas.” Katanya kepadaku yang masih bergulat dengan brokoli. Aku tidak bisa menatap wajahnya, ini pertama kalinya ibuku membawa teman laki-lakinya.
“Baik, he..he...” jawabku setengah terpaksa. Sungguh aku ingin pulang, Joe bantu gw lari dari sini. Kenapa jadi canggung begini suasananya. Aku masih bertanya-tanya dari mana dia tahu namaku.. apa aku terlalu terkenal. Tidak mungkin.
“Kamu jangan takut gitu Sam, Tomm baik kok. Dia malah mau mengajarimu Matematika.” Kata ibu kepadaku, tapi aku tidak menggubrisnya. Aku tidak menjawab dan hanya terdiam di sana bersama brokoliku. Ibu mungkin mempunyai hubungan spesial dengan pria ini.
Aku tetap mengunci mulutku, dan mendengar perbincangan mereka. Mereka asyik sekali berbincang dari dunia bisnis hingga sastra. Sejak kapan ibu kenal dengan Tomm. Aku penasaran.

Sabtu, 14 Desember 2013

Perempuan

Seharian ini aku tidak tahu ingin berbuat apa, lama-lama aku bisa bosan bila tetap berada di kamar ini. Semuanya memang gara-gara si Joe, dasar anak itu. Bukannya menyelamatkanku malah kabur. Hukuman ini akan berakhir jika aku meminta maaf kepada Ibuku dan aku juga harus membantunya di rumah selama satu minggu. Mungkin itu pekerjaan yang gampang untuk anak perempuan biasa, tetapi untuk perempuan sepertiku  pekerjaan itu sangatlah sulit.
Aku ini seorang yang kaku, tidak bisa dandan seperti teman-temanku yang lainnya, dan selalu saja mudah tersulut emosi. Mungkin bila aku bisa merubah penampilanku yang urakan ini menjadi seorang putri yang cantik, Ibu pasti akan memaafkan segala kesalahanku. Yah, begitulah Ibuku. Ia menginginkan penampilanku yang sekarang ini bisa berubah dan menjadi perempuan asli. Akan kupikirkan keinginannya ini, sebenarnya aku juga terasa aneh. Bila terus bersosialisasi dengan anak cowok di Sekolah, apa tidak aneh bila ikut tim futsal putra di Sekolah. Aku nggak habis pikir, siapa yang memasukanku ke dalam tim futsal putra. Apa iya, karena gaya penampilanku ini yang mirip laki-laki? Kuharap aku bisa merubah diriku sedikit demi sedikit.
Akhirnya aku keluar kamar dan menemui Ibuku di dapur.
“Bu, aku minta maaf.” Kataku langsung. “Untuk apa, memang kamu berbuat salah?” tanyanya.
“Lho, memang Ibu sudah lupa aku yang membuat semua berantakan di rumah ini. Aku yang mengajak semua teman-temanku kesini dan berbuat onar saat Ibu pergi selama 2 hari kemarin. Aku minta maaf dan aku akan mengalami hukuman membantu Ibu dalam satu minggu ini.” Jelasku kembali.
“Camille, kamu sudah besar-kan? Sudah saatnya kamu kenal apa itu rumah tangga, jadi itu semua bukan hukuman untukmu. Itu semua sudah kewajibanmu sebagai anak perempuan nak.” Jawab Ibu menasehatiku.
“Iya, iya, iya. Kalau begitu apa yang perlu aku bantu hari ini?” jawabku singkat seakan ingin obrolan nasehat itu berhenti. Ibu menggelengkan kepalanya sambil tersenyum dan berkata “Mulailah bersihkan kamarmu terlebih dahulu.”
Aku langsung naik lagi keatas menuju kamar kesayanganku. Hmm, kita lihat kamarku mungkin kamar yang terburuk bagi Ibuku untuk ditiduri. Karena disana-sini terdapat komik dan majalah. Bahkan aku tidur diatasnya, selama ini memang aku tidak pernah membereskan kamarku. Selalu saja Ibu yang bertugas membereskannya setiap aku pergi ke sekolah. Ini saatnya kutunjukan pada Ibu kehebatanku dalam membersihkan kotoran.
Kita mulai dari lantai kamar, aku secepat mungkin membersihkan lantai dengan sapu. Sebelumnya kupindahkan dulu majalah dan buku pelajaran yang ada di lantai ke meja belajarku yang belum pernah kupakai. Setelah semuanya selesai, aku mulai menyapu dan itu hal sangat berat, aku hanya sesekali menyapu di Sekolah bila aku terlambat dan itu meyebalkan. Namun pengalamanku kali ini mungkin menyenangkan karena aku mendapatkan hal positif setelah aku menyapu kamarku, yaitu kamarku terlihat lebih rapi 3,5%. Yaa, walaupun sedikit tapi itu adalah kemajuan bukan. Selanjutnya aku berhadapan dengan meja belajar dengan buku-bukuku yang menggunung diatasnya. Aku bingung akan kutaruh dimana buku-buku itu bila laci meja sudah penuh nanti, sedangkan aku tidak mau semua majalah dan komikku dibuang Ibu ke tong sampah depan rumah. Aku menyayangi benda-bendaku. Jadi, aku akan menyiapkan kardus untuk menyimpan semuanya. Kalau bisa Ibu membelikanku satu rak buku agar aku bisa menaruh semua buku majalah dan komiku didalamnya. Tetapi untuk sementara akan kusimpan di dalam kardus ini saja dulu.
Sesaat aku memindahkan semua buku, majalah dan komikku ke dalam kardus, Ibu datang dan berkata “Kamu seharusnya membagi kardus itu, jangan semuanya dimasukan seperti itu. Satu kardus untuk buku, satu kardus untuk majalah dan satu kardus lagi untuk komikmu. Hanya sekedar masukan, baiklah teruslah bekerja tuan putri.” Katanya kepadaku.
Tak lama setelah Ibuku pergi, tidak tahu ada apa aku langsung menuruti masukan dari Ibu karena kuanggap cara itu memang menjadikanku lebih gampang menaruh semua buku ini dan menghemat waktuku pula. Kira-kira setelah 3 jam bergelut dengan kamar, aku-pun dapat merasakan hasil dari pekerjaanku ini. Kamarku jadi terlihat lebih rapi, ya tidak sia-sia aku menuruti kata Ibu. Besok saat masuk sekolah akan kuhadang si Joe, mentang-mentang punya kesempatan untuk kabur. Tidak menolongku terlebih dahulu, dasar teman macam apa dia. Tapi, aku sedang dalam tahap merubah diriku. Mungkin aku akan menyapanya saja besok. Aku tidak mau terlihat sebagai perempuan yang tomboy.
Baik hari ini saatnya perubahan besar Camille. Setelah aku mandi, dan menyisir rambutku aku langsung pergi sarapan bersama Ibu. “Ada yang beda dengan kamu Sam, apa ya. Kamu jadi lebih rapi dan bangunnya juga pagi sekali hari ini, ada apa sih?” tanyanya heran. “ahhaaahaa, iya dong. Soalnya aku sudah berubah.” Jawabku singkat sambil sarapan.
“Kalau seperti ini terus kamu pasti ga akan terlambat lagi ya. Baguslah kalau begitu, pertahankan nak.”
“Siap nyonya, aku berangkat dulu. Masih ada tugas yang belum dikerjakan nih hehe.”
“Dasar anak nakal.”
Sesampainya di kelas, aku duduk di sebelah Septi. “Selamat pagi, boleh duduk disinikan Sep?” sapaku kepadanya. “…iya, tapi kok tumben Sam mau duduk di depan, Biasanya kan kamu duduk sama Joe?” jawabnya. “Jadi, ga boleh nih duduk sini, yaudah ga jadi deh.”
“Bukan itu maksudku Sam, tapi aku cuma bingung aja.”
“Iya nggak apa, hanya mau ganti suasana, duduk di belakang aku ga begitu kelihatan apa yang ditulis guru. Okay, duduk ya.. thanks.”
Tak lama kemudian Joe datang menghampiri tempat dudukku. “Sam! Kemana aja lo kemarin? Di sms juga sama si Haikal suruh tanding.”
“Ga ah, gw ga mau bohong lagi sama panitianya.”
“Yaa ampun, lo cuma pake wig aja itu panitia juga bakal percaya kalau lo itu cowok Sam. Lain kali ikut ya. Masalahnya nama sekolah nih yang dipertaruhkan.”
“Tapi kemarin kalian menangkan, ga jadi masalah dong. Lagian gw juga udah bosen yang namanya bola.”
“Waah, otaknya lagi ngawur nih anak. Bukannya dulu lo pernah bilang kalau hidup lo hanya untuk bola, komik, dan makan? Kenapa sih, ngambek gara-gara kemarin gw ga nolongin lo dari kejadian itu?”
“Itu dulu kali Joe, udah deh. Lagipula kemarin gw ga butuh pertolongan lo, gw bisa menyelamatkan diri gw sendiri.” Kataku sedikit membentak. “Ya udah deh, kalo itu mau lo.” Jawab Joe pasrah.
Aku ga habis pikir kenapa si Joe itu begitu menyebalkan akhir-akhir ini. Aku harap dia bisa merubah dirinya sepertiku yang sudah mengalami tahap awal perubahan diri.
“Septi, aku boleh lihat tugas matematik ga? Susah nih, ga ngerti.” Omongku kepada Septi. “Oh, tugas yang itu ya. Aku sih udah  Sam, ini lihat saja.” Katanya sambil menyodorkanku buku tulis matematikanya. “Thanks a lot Septi..!.”
Akhirnya bel-pun berbunyi dan jam pelajaran pertama di mulai. Jika aku harus mendeskripsikan sekolah mungkin sekolah itu adalah tempatnya orang-orang yang menghabiskan waktunya dengan membaca juga disana itu isinya hanya buku, buku dan buku. Untuk apa kalau hanya untuk membaca tempatnya harus di Sekolah? Tapi itu pengertianku saat aku belum merubah diriku atau disaat aku patah arah. Hm, harus kuluruskan mulai saat ini. Kita di sekolah harus belajar untuk mencapai cita-cita. Aku harus bisa merubah pikiranku sedikit demi sedikit. Pelajaran pertama Bu Hanna, dengan buku Bahasa Indonesianya. Well, Bu Hanna itu baik banget. Namun ga tahu kenapa, temen-temen sekelas suka ngerjain beliau. Yah, begitulah kehidupan anak remaja. Aku ga ikut jahilin dia kok, soalnya aku tahu Bu Hanna itu ga pantas untuk dikerjai.  Saat istirahat tiba, Joe kembali mengacaukan rencanaku untuk menjadi teman para perempuan.
“Sam! Ayo main bola di lapangan. Kelas 10 ngajakin tanding tuh. Hm, ayo ah! Lama banget sih.” Seru Joe dengan mengambil tanganku sambil berjalan cepat menuju lantai bawah. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Aku hanya melihat punggung Joe dan tangannya yang memegang tangan kananku. Ini terasa aneh, namun aku tidak tahu itu. Akhirnya aku sadar setelah banyak orang-orang yang menyerukan kami berdua.
“Joe! Apaan sih lo. Gw ga main bola lagi, bikin malu gw aja. Ikh!” kataku satengah berteriak sambil melepaskan tanganku dengan tangannya.
“Sam, please untuk satuu.. kali ini aja. Kalau kita ga menang, anak kelas 10 pasti makin menjadi-jadi tingkahnya.”  Pintanya dengan wajah yang memelas.
“Gw tetap dengan pendirian gw, kalian bisa kok tanpa adanya gw. -kan ada Haikal, Joe. Tenang aja lagi.” Kataku kepadanya memberi semangat. Gimana gw bisa mengehindar dari situasi ini?
“Joe, gw mau ke toilet bye-bye! Hehe” kataku kepadanya datar. Setelah itu aku tidak mendengar apapun dari mulut Joe, mugkin dia shock karena perubahan drastisku ini. Tak apalah ini untuk kebaikannya juga untuk berteman dengan perempuan lain bukan hanya dengan aku saja. Banyak kali yang suka sama dia, siapa sih yang ga mau berteman sama Joe… dalam perjalananku ke kelas aku bertemu Haikal.
“Sam, apa kabar? Tumben ke toilet hehe” sapanya kepadaku. “Eeh, Haikal iyaa. Ga apa kok. Kata Joe mau sparring sama kelas 10, kok lo ga ke lapangan?” Tanyaku .
“Pertandingan itu di tunda sampai besok. Kayaknya besok juga bukan di sekolah tandingnya. Lo ikut-kan besok?” jawabnya.
“Waaa gw ga bisa, maaf ya. Harus bantuin nyokap di rumah. Kasihan dia, gw ga pernah bantuin. Jadi ga enak rasanya. Sorry, salamin aja buat anak-anak yang lain. Thanks yaa.”
Gimana dong, gw ga bisa bilang sama Haikal kalau gw ini sudah mau ngerubah diri dan ga mau main bola lagi. Semoga secepatnya gw bisa ngomongin ini ke semua orang. Kumohon percepatlah waktu untuk pulang!
Pulang sekolah tiba, dari istirahat tadi sampai sekarang si Joe sudah ga ngobrol lagi denganku. Pertanda baik, soalnya aku masih belum siap untuk jujur sama dia. Aku juga akan pulang seperti halnya anak perempuan biasa, siapa juga yang mau nebeng terus sama si Joe. Aku berjalan seperti biasa keluar pintu gerbang sekolah menyusuri jalan menuju jalan besar dimana aku bisa menunggu angkutan umum disana. Namun tiba-tiba ada sebuah motor hampir menyerempetku.
“Sam! Gimana sih lo gw tungguin dari tadi. Ternyata malah jalan disini. Biasanya juga elo yang nunggu gw di parkiran.” Katanya sambil menahan emosi.
Sorry, gw ga nebeng deh hari ini. Harus ke Mini Market dulu, biasa disuruh belanja. Okay, bye Joe.” Jawabku kepadanya.
“Hari ini lo aneh banget sih Sam, bener deh. Lo terus menjauh dari gw. Kalau gitu, sekarang gw temenin lo belanja. Ayo, mendingan lo naik motor biar lebih cepet. Gw yang akan nganter lo ke Mini Market.” Paksa Joe sambil menyeret tanganku dengan sigap.
“Ee..eeh! Apaan sih?” sontakku. “Apaan sih, apaan sih. Udah deh diam aja, berisik tahu!” jawabnya setengah kesal.
Aku tidak dapat berbuat apa-apa lagi, bagaimana aku bisa lari dari tangan Joe. Dia lebih kuat daripada aku, malah mungkin sangat kuat. Soalnya tanganku mulai sakit dipegangnya. Akhirnya kami berdua pergi ke Mini Market, sesampainya di sana aku menyuruhnya untuk pulang. Tapi sepertinya dia masih kesal akan sikapku tadi.
So, here we are! Makasih ya Joe, tapi sebenarnya lo ga perlu lagi nganterin gw segala. Yaudah deh, lo pulang gih udah sore juga nih. Gw pamit, mau beli makanan dulu. Heheh” kataku sambil menyisipkan senyum simpul maksa.
“Gw tunggu lo sampai selesai kok, tapi jangan terlalu lama ya!” jawabnya sambil membuka helm miliknya.
“Joe, udah ah. Ga usah tungguin gw, please. Gw bisa sendiri kok. Jangan sok baik gitu deh. Biasanya juga lo ga pernah baik ke gw. Udah ah, berhenti pura-pura baik gini. Aneh lo!” kataku sinis dan langsung masuk ke dalam mini market.
“Bukannya dia yang aneh sekarang? dasar si Sam.” Katanya dalam suara kecil saat aku telah masuk ke dalam mini market.
Huuuh! Kenapa harus jadi begini sih ceritanya, ngapain juga si Joe bela-belain nunggu gw. Padahal tahu sendiri dia ga suka nunggu! Waaah, aku ada ide, biar aja aku belanja tapi kali ini spesial. Karena belanja kali ini membutuhkan waktu ekstra. Aku yakin dia pasti bosan dan langsung pulang. Baiklah kalau begitu, mari kita mulai…
Aku mulai dari sayuran, tapi mungkin hanya sedikit sayuran yang kubeli karena stock di mini market ini juga hanya sedikit dan tidak lengkap. Setelah mengambil beberapa jamur dan juga daun kangkung akhirnya aku menuju bagian keperluan makanan kecil. Aku suka tempat ini, banyak makanan kecil yang jarang dijual di warung-warung. Banyak sekali variasinya. Kuharap si Joe sudah mulai tidak nyaman dengan keadaan ini. Kira-kira setelah 20 menit, belanjaanku sudah selesai. Tapi tetap saja di Joe masih di luar menungguku. Hmm, kita lihat nanti. Aku akan luangkan waktu 15 menit lagi.
Tidak sampai 15 menit si Joe sudah mulai kesal. Akhirnya ketidak sabaran Joe pun terlihat. Yes! Aku menang. Aku lihat dia masuk ke dalam mini market dan mulai mencariku dengan wajahnya yang telah terlipat kesal. Aku persiapkan muka yang datar sambil berpura-pura memilih prodak es krim. Kebetulan aku sedang berada di depan kotak pendinginnya.
“Sam, kok lama banget sih. Masa’ belanja di mini market aja sampai 30 menit lebih!” kata Joe kepadaku.
“30 menit? Oh iya, maaf ya. Yaudah lo pulang aja Joe. Gw jadi ga enak sama lo.” Jawabku pura-pura bingung.
“Enak aja, gw udah nungguin lo capek-capek juga, pulang yuk! Bayar gih belanjaannya.” Suruhnya.
“Tapi, masih belum selesai nih, gw masih harus beli es krim dulu. Terus pulpen gw juga habis kemarin jadi harus beli sekarang.” Jawabku mencari alasan agar dia tidak mau mengantarku pulang.
“Yaudah cepetan, gw tunggu di luar.” Katanya kepadaku.
Ikh! Siapa juga yang mau nebeng sama dia, ampun! Gw kok ga bisa ya ngomong kalau gw mau sendirian? Huh, nyebelin dasar. Maksa banget lagi. Kayaknya gw harus nyerah untuk kali ini. Akhirnya, setelah kubayar semua belanjaanku aku keluar dari swalayan itu.
Sorry lama Joe, gw sedikit bingung tadi milih prodak yang mana.” Kataku mencari alasan yang cocok.
“Makanya, kapan-kapan sering-sering deh bantuin ibu lo belanja. Biar tahu apa aja yang suka dibeli. Ayo pulang sekarang.” Omelnya kepadaku yang berdiam di sebelah motornya.
“Iya, iya.” Jawabku dengan nada rendah.



Waa hello guys, balik lagi nih sekarang posting cerpen. Hahaha :D semoga kalian terhibur yaa, komen dan kritiknya boleh. Aku terbuka kok sama komentar dan kritik. Ini kan masih pendahuluan, masih ada dua chapter lagi untuk cerpen Perempuan ini. Terima kasih yaa sudah mau baca. 

Sabtu, 05 Oktober 2013

Ibu


Hidup ini ibarat telur yang masih dalam masa inkubasi. Bisa berhasil ataupun gagal untuk menetas. Setelah menetas itulah hidup yang sebenarnya. Kita hanya hidup satu kali, maka dari itu jangan sia-siakan hidupmu sendiri. Itu mungkin salah satu dari motivasi untukku secara pribadi. Aku terlahir dengan nama Mei, banyak hal yang aku lalui selama ini. Tapi, kebanyakan dari itu aku lupakan. Aku lupa, bagaimana aku bisa tertarik sama hobby merangkai bunga. Aku lupa, kenapa aku bisa nyia-nyiain waktu luangku dengan bermain game online. Padahal masih banyak hal yang bisa aku kerjakan saat itu dan lebih penting. Aku lupa, ulang tahunku yang ke-15. Dan masih banyak lagi yang lainnya. Mungkin beberapa dari kalian ada yang tahu bagaimana dahsyatnya kasih sayang ibu terhadap anak-anaknya. Mungkin sebagian dari kalian juga tahu kalau kasih sayang ibu tak terhingga sepanjang masa. Dan aku tahu kalau kalimat-kalimat itu semua adalah benar. Benar adanya kalau kasih sayang ibu itu tidak terhingga, semua ibu di dunia ini. Termasuk ibuku.
Ibuku adalah seorang wanita karir yang boleh dibilang rajin, dan sopan. Umur ibu sekarang adalah 56 tahun, dan dia masih sehat. Ibuku adalah pahlawan hidupku. Tahun lalu saat ulang tahunku yang ke-17, dia membelikan cake untukku, padahal kakinya sedang sakit. Dan aku sangat sayang beliau. Ibu seorang yang sangat ramah dan dia juga seorang pendengar yang baik. Dia bersedia duduk menemaniku mendengar keluh kesah yang kualami di sekolah tanpa lelah. Ibuku bersuara lembut nan merdu. Bekerja setiap hari, seolah-olah Ia tidak memikirkan capek atau masalah yang dirasakannya. Senyum manis selalu tertempel di wajahnya saat aku di sampingnya. Sudah lama ia tidak di rumah, ia sakit parah sekarang. Kakakku merawatnya di rumah sakit. Aku disini, berharap ibu cepat sembuh dan kembali bersama-sama lagi.
Puisi untuk Ibu..


Untuk Ibu yang terkasih,
Engkaulah fajar yang mengawali hariku,
Menemaniku dalam sedih,
Berikanku kehangatan di hariku,

Teruslah hadir dalam benakku,
Wahai malaikatku,

Dekap erat aku dengan sayapmu,
Agar engkau terus bersamaku,

Ibu yang terkasih,
Biarkanku memelukmu,
Merasakan kenyamanan dalam pedih,
Tetaplah disampingku,


Ibu,
Jangan bersedih hati,
Biarlah ku buang kesedihan itu,
Dan membuatmu ceria kembali,

Wahai Ibu,
Bila waktuku telah tiba,
Maukah kau menciumku,
Untuk terakhir kalinya?

Ibu yang tersayang,
Kasih dan cintamu tak terhingga,
Terima kasih Ibuku tersayang,
Kan kuingat sepanjang masa.

Senin, 19 Desember 2011

Cerita Pendek


Ini hanya cerita pendek yang kubuat, semoga kalian menyukainya~ silahkan membaca :)
 
Judul: Gedung Lama Sekolah
Tema: Horror

Gedung Lama Sekolah
Suatu hari di waktu pagi, aku melihatnya lagi. Disana berdiri sendiri, dengan sebuah buku merah di tangannya. Sudah lama aku melihat gadis itu disana. Biar saja kupendam rasa keingintahuanku ini kepada siapapun. Gadis itu memakai baju lengan pendek dan rok selutut, rambut panjangnya menghiasi setiap ia berjalan. Aku tahu, memang aneh jika ada seorang maniak ilmu sepertiku ini mau menjadi temannya.
“Mei! Kamu kenapa?” tiba-tiba Jenny datang.
“hee, tidak ada apa-apa..hanya saja soal pembahasan ini sangat sulit.” Kataku terkejut. Aku tidak bisa berbohong seperti ini lagi. Aku sebenarnya ingin cerita tentang ini kepada semua orang.
“Sebentar lagi masuk jam pelajaran pertama lho! Ayo kita ke kelas.” Ajak Jenny. Aku mengikuti Jenny ke lantai atas untuk mengikuti pelajaran pertama. Bel pun berbunyi, tetapi gadis itu tidak bergerak dari tempatnya. Apa dia bukan murid di sini, atau hanya ingin mencari udara segar di pagi hari?.
Pelajaran hari ini adalah pelajaran kesukaanku. Pelajaran pertama ada bu Yas dengan buku teori Matematikanya, kemudian Bahasa Inggris dan ada juga pembahasan soal-soal Geografi. Hampir semua pelajaran kusenangi. Saking senangnya belajar, aku lupa dengan gadis yang belakangan ini menarik perhatianku. Akhirnya saat istirahat datang, aku bagi waktu bacaku dengan berjalan-jalan didalam sekolah. Lagipula aku juga penasaran, gadis itu sebenarnya kelas berapa. Tapi, bodohnya aku adalah saat berjalan aku melewati daerah yang disinyalir oleh teman-teman menakutkan. Sedikit takut memang, namun kupikir untuk apa takut. Akhirnya aku beranikan diri menyusuri lorong tua tersebut. Beberapa menit kemudian aku merasa terbiasa dengan gedung lama sekolahku ini. Oh tidaak! Aku telah sampai di gedung lama sekolah, seharusnya aku tidak masuk sampai sini. Lorong tua yang kumaksud adalah jalan yang menghubungkan gedung lama dengan gedung baru yang sekarang dipakai.
Bagaimana ini? Aku terdiam di depan pintu kelas, di sekelilingku terlihat kusam dan berdebu. Aku tidak meyukai tempat ini, kuharap seseorang akan datang dan menolongku keluar dari sini. Apapun yang terjadi semua ini memang kesalahan keingintahuanku yang besar akan gadis manis itu. Aku harus berhenti memikirkannya. Aku harus keluar dari gedung tua ini. Menyusuri langkah yang telah kulalui. Kumulai langkah yang pertama, kedua, ketiga…kelima, kedelapan. Aku merasa dingin dan merinding, kuubah cara jalanku. Sekarang aku jalan cepat menyusuri lorong yang hanya diterangi sinar matahari yang masuk melalui jendela. Terus, terus, dan terus berjalan seakan tidak ada pintu keluar dari gedung ini. Aku merasa aneh, terdengar suara langkah kaki yang berbeda.. suara itu datang dari arah belakang. Keadaan ini sangat tidak nyaman bagiku. Aku mulai berhati-hati dengan arah jalanku, karena lantai di lorong ini sudah mulai rapuh dan gampang roboh, tapi setelah langkah ketiga.  Aku merasakan gaya gravitasi yang cepat…
“WAAA..!” teriakku kencang sambil memejamkan mataku. Hangat, tanganku merasa hangat.
“Eeh, terima kasih yaa.” Kataku kepada anak laki-laki itu. Ia telah menolongku dari maut kecil tadi. Aku hampir terjatuh tetapi untungnya aku telah diselamatkan olehnya.
“Kau tidak apa-apa?” jawabnya, kemudian aku menganggukkan kepalaku seraya mengatakan bahwa aku baik-baik saja.
“Pergilah, sekarang sudah mau memasuki jam pelajaran. Lain kali hati-hati ya.” Pesannya kepadaku sambil tersenyum seakan menertawaiku. Sepertinya aku mengenalnya, tapi aku ragu. Murid laki-laki itu, kurasa dia yang selalu kutemui berjalan di dekat toko buku bekas langgananku. Tetapi ada keperluan apa dia di gedung tua ini?..
Pulang sekolah pun tiba, hari ini aku terpakasa jalan kaki sendiri. Karena teman dekatku Rossie sedang sakit, apa aku harus menjenguknya lagi yaa. Mungkin nanti akan kuceritakan semua  ini kepadanya saat aku menjenguknya lusa.
Sejak kejadian istirahat tadi aku tidak bisa konsentrasi belajar di sekolah, hanya karena satu laki-laki misterius itu. Kurasa aku dan dia pernah masuk kelas yang sama. Kelas apa, Kimia atau Bahasa ya. Aku tidak tahu, sudahlah lupakan.
Hari ini gadis itu lagi-lagi kembali berdiri di bawah pohon besar itu. Sendiri dan tetap membawa buku merahnya. Besok aku akan menegurnya, kuharap tidak akan terjadi apa-apa. Istirahat pun tiba, aku bergegas keluar teras kelas. Aku melihatnya lagi di lapangan dekat pohon, sekarang ia sedang membaca buku merahnya. Aku merasakan hal aneh, melihat rambutnya tertiup angin yang lemah. Membawaku jadi mengantuk dan mulai berkhayal tentang hari esok saat aku menyapanya pertama kali. Semoga waktu cepat berlalu.
Pagi yang cerah untuk memulai aktivitas sehari-hari. Sungguh menyenangkan, aku siap untuk menyapa gadis itu hari ini. Sebelum ke kelas, aku langsung pergi ke lapangan. Dan gadis itu berdiri seperti biasa di sana. Perlahan-lahan aku berjalan mendekati dia, dan sekarang ia menatapku dengan matanya. Wajahnya memperlihatkan senyuman yang manis, kuangkat tanganku untuk mengatakan salam. Tetapi tiba-tiba laki-laki yang kemarin menolongku menghadangku untuk menyapanya.
“Hei!” sahutnya dan langsung menyeretku ke tepi lapangan. Senyum yang hadir di wajah gadis itupun pudar dan laki-laki ini penyebabnya.
“Kita harus membicarakan ini secepatnya, kita ketemu lagi setelah pulang sekolah di tempat kita bertemu kemarin.” Ulasnya dengan cepat.
Aku terkejut, apa salahku ingin berkenalan dengannya. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Sebaiknya aku, mengikuti perintah darinya. Walaupun baru dua hari mengenalnya.
Pulang sekolah, akhirnya aku pergi menemui laki-laki itu. Sesampainya di lorong tua itu, aku terus menunggu. Sepuluh manit pertama aku luangkan dengan mambaca buku yang kubawa. Dua puluh menit selanjutnya, aku mulai bosan dengan menunggu di lorong menyeramkan ini. Aku berlari kecil untuk keluar dari lorong tua itu. Tiba-tiba laki-laki itu ada di depan mataku.
“Kau, menepati janjimu. Maaf terlambat, hari ini ada gangguan sedikit. Namaku Edi Nugroho. Biar kujelaskan sambil berjalan.” katanya kepadaku. Aku pun langsung mengikuti di sebelahnya dengan berjalan seirama dengan langkah kakinya.
“Kamu lihat perempuan di pohon besar lapangan?” tanyanya dengan wajah yang sedikit ingin tahu. Aku bingung, apa yang sedang terjadi.
“Iya, aku sering melihatnya, dan penasaran olehnya. Bagaimana kau bisa tahu?” balasku dengan pertanyaan.
“Baiklah kalau begitu, akan kuceritakan sebuah cerita yang terjadi di sekolah ini, saat dulu kala.” Jelasnya sambil memelankan langkah kakinya. Setelah itu, ia pun bercerita dengan panjang lebar. Sedikit demi sedikit setelah aku mendengar cerita darinya aku mulai mengetahui semuanya. Bahwa perempuan yang selama ini kukagumi untuk mejadi temannya adalah seorang arwah penasaran. Awalnya aku sempat tidak percaya dengan perkataannya. Setelah aku sampai di rumah aku merenung sendiri di kamarku. Gadis itu sebenarnya seorang perawat di sekolahku dulu, tahun 1975. Tidak terpikir olehku, namanya Maya, ia bekerja di UKS sekolah untuk mengobati siswa-siswi yang sakit. Ia sangat menyukai pekerjaaannya, namun karena pekerjaannya lah ia mendapatkan hambatan dalam kehidupannya. Karena hatinya terasa sangat berat dan bimbang dalam memilih pekerjaan atau melanjutkan pedidikannya. Karena terus ditekan oleh orang tuanya untuk sekolah kembali. Akhirnya, ia pun mengundurkan diri, dan tidak diduga-duga, saat ia membereskan barang-barangnya di ruang UKS.  Gadis manis itu mengakhiri hidupnya dengan meminum racun. Maka pada saat itu sang perawat meninggal di ruang UKS sekolah lama. Rumornya, ia senang duduk-duduk di bawah pohon besar di lapangan. Dan ia selalu membawa buku catatan merahnya.
Aku masih termenung dan tetap memikirkannya. Tiba-tiba saat aku menyendiri, ada yang mengetuk pintu kamar. Tapi ini sungguh aneh, sekarang adalah pukul 01.30 pagi. Semuanya pasti sudah tidur. Pelan-pelan aku menghampiri pintu kamarku dan saat kubuka ada arwah perawat Maya dengan wajahnya yang tidak manis lagi, ini sangat mengejutkanku. Ia memegang tanganku dengan tangannya yang keriput dan setelah itu tangannya mengenai kedua pipiku yang dingin. Aku sangat takut, kupejamkan mataku. Dan berkata kepadanya.
“Maya, aku sudah tahu semuanya. Maaf aku selalu memperhatikanmu akhir-akhir ini. Kumohon jangan ganggu aku lagi.” Pintaku kepadanya, baru kali ini aku melihat bentuk aslinya. Akhirnya tangan dingin keriput itu melepaskan pipiku, dan sesaat aku merasakan angin berhembus didepan wajahku dan menerpa lemah rambutku.
Esoknya aku demam tinggi, badanku panas. Mungkin ini efek samping dari pertemuanku dengan Maya. Dua hari berlalu sejak itu, aku pun kembali masuk sekolah. Rossie sudah sembuh dan kembali masuk bahkan Sabtu lalu dia menyempatkan diri menjengukku saat aku sakit. Kemarin sudah kuceritakan semua kepadanya, namun ia tidak percaya kepada apa yang kuceritakan padanya. Di sekolah aku merasa terlihat asing, aku dan Rossie juga tidak seperti biasanya yang selalu bersama. Sekarang ia lebih sering bersama novelnya. Aku juga sudah tidak melihat Maya lagi di bawah pohon. Edi sepertinya tetap menjadi seorang yang misterius.

Maaf yaa, haha saya memang tidak pandai menulis. ^__^ lalala
terima kasih sudah membaca cerpen ini :D